BANYUWANGI, sigap88news – Riuh tepuk tangan penonton dan kilatan lampu blitz kamera puluhan tahun lalu kini telah berganti dengan deru bising kendaraan yang melintas di Jalan Raya Purwoharjo. Di sanalah, tepat di samping Balai Desa Kradenan, seorang pria paruh baya dengan cekatan membelah kelapa muda untuk disajikan kepada pembeli.

Tak banyak yang tahu bahwa tangan yang kini terbiasa memegang golok pemotong kelapa itu dulunya adalah sepasang tangan tangguh yang pernah berbalut sarung tinju, memukul jatuh lawan, dan mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional. Pria itu adalah Wido Paes, mantan petinju nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia dan Kabupaten Banyuwangi.

Wido Paes, pria asli Dusun Krajan, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, bukanlah nama sembarangan di era keemasannya. Ia merupakan petinju berbakat yang pernah digembleng di bawah bendera Sasana Santana Panjen Malang serta Sasana Probolinggo.

Kariernya sempat melesat hingga membawanya mewakili negara dalam kejuaraan antarnegara bergengsi di Thailand dan Jepang. Berbagai gelar juara dan medali pernah ia raih, membuktikan bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari benteng pertahanan harga diri bangsa di atas ring tinju dunia.
Namun, roda berputar. Masa jaya seorang atlet ada batasnya, dan ironisnya, jaminan hari tua di negeri ini sering kali tak seindah prestasi yang pernah diukir. Saat ini, demi menyambung hidup sehari-hari, sang mantan petinju harus bergantung pada lapak jualan es kelapa muda yang sederhana.
Kondisi Wido Paes saat ini menjadi potret buram bagi dunia olahraga tanah air, khususnya di tingkat daerah. Lapak es kelapanya berdiri tepat di samping Balai Desa Kradenan—sebuah simbol pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Namun tragisnya, hingga hari ini, belum ada sentuhan, bantuan, ataupun perhatian nyata dari pemerintah daerah maupun instansi olahraga terkait terhadap nasib sang mantan pahlawan ring.
”Miris melihatnya. Beliau ini pernah membawa nama harum Banyuwangi dan Indonesia di luar negeri. Tapi sekarang, jangankan jaminan kesejahteraan, perhatian atau apresiasi sekadar singgah pun sama sekali tidak ada dari pemerintah,” ujar Waluyo seorang warga setempat yang prihatin melihat kondisi Wido.
Kisah Wido Paes kembali mengetuk kesadaran kolektif kita: sampai kapan para mantan atlet yang telah mengorbankan masa mudanya demi negara harus berjuang sendirian di masa tuanya?
Pengalaman internasional yang dimiliki Wido Paes sejatinya adalah aset berharga yang bisa diberdayakan—misalnya untuk melatih bibit-bibit muda di Banyuwangi. Warga berharap, dengan mencuatnya kisah ini, pihak KONI maupun Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Banyuwangi bisa segera turun tangan membuka mata, memberikan apresiasi yang layak, dan membantu menyokong kehidupan Wido Paes agar mendapatkan penghormatan yang semestinya ia terima.(her)



