Banten, Sigap88news – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) secara resmi membuka kegiatan workshop berjudul “Tata Ruang dan Masa Depan Ekologis Banten”, di Coffe and Creatif Serang, Kota Serang, Banten, Selasa (05/05/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh 35 perwakilan dari berbagai unsur, mulai dari organisasi masyarakat, akademisi, budayawan, hingga lembaga bantuan hukum dan awak media. Pembukaan kegiatan dipimpin langsung oleh Boy Jerry Even Sembiring Direktur Eksekutif Nasional WALHI.
Workshop ini diselenggarakan mengingat kedudukan dan sejarah wilayah Banten yang memiliki peran strategis, sekaligus menghadapi berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam dan ruang wilayah.

Sejak masa lalu, wilayah ini dikenal sebagai pusat pelabuhan perdagangan dan pertahanan maritim, dengan pembagian fungsi wilayah yang jelas dan berlandaskan kearifan lokal.
Secara geografis, Banten memiliki luas lebih dari 9.600 km persegi, garis pantai sepanjang hampir 900 km, serta dihiasi oleh 81 pulau kecil dengan kekayaan alam yang beragam meliputi kawasan hutan, lahan pertanian, perairan, hingga kandungan mineral.
Kendati kaya sumber daya, saat ini wilayah daratan maupun pesisir Banten dihadapkan pada dua jenis ancaman utama, yaitu yang bersifat alami maupun akibat ulah manusia. Ancaman buatan ini muncul seiring pembangunan yang cenderung mengejar keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan batas kemampuan lingkungan dan hak masyarakat. Hal ini kemudian memicu berbagai masalah, mulai dari konflik penguasaan lahan hingga kerentanan terhadap bencana lingkungan.
Beberapa persoalan utama yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini meliputi pembangunan berskala besar di wilayah pesisir, perluasan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, penguasaan wilayah oleh pihak swasta, pembangunan pariwisata dan properti yang mengubah fungsi ruang, serta alih fungsi kawasan hutan bakau untuk kegiatan tambak dan penambangan. Semua hal tersebut dinilai berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan serta menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas.
Menurut penyelenggara, workshop ini disusun dengan tiga tujuan utama, yaitu mengidentifikasi gambaran terkini mengenai potensi konflik dan ancaman kerusakan lingkungan, membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pengelolaan wilayah yang aman bencana dan adil lingkungan, serta merumuskan gagasan kebijakan yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan kepentingan rakyat jangka panjang.
Diharapkan setelah kegiatan ini, seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama mengenai kondisi wilayah serta dapat bersatu suara untuk mendorong kebijakan pembangunan yang lebih berkelanjutan dan melindungi lingkungan hidup.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menggunakan metode partisipatif yang melibatkan seluruh peserta untuk berbagi pengalaman dan pandangan. Materi disampaikan oleh narasumber yang kompeten, yakni Nochi Henriyana dan Cholid Mifdar, kemudian dilanjutkan dengan diskusi terarah serta penyusunan langkah kerja ke depan.
Hadir dalam kegiatan ini antara lain perwakilan organisasi petani dan nelayan, tokoh masyarakat dan agama, kelompok pecinta alam, akademisi, budayawan, pengelola pondok pesantren, lembaga swadaya masyarakat, serta pengurus WALHI Nasional dan WALHI Jakarta. (Red)



