Ad image

Warga Desa Kradenan Meyakini Punden Periangan Adalah Jantung Spiritual Dan Historis

Pemred Sigap88.news
119 Views
2 Min Read
Punden periangan desa kradenan (sigap88news/heru)

Banyuwangi, sigap88news – Situs atau Punden Periangan di Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, bukan sekadar tumpukan batu bata kuno bagi warga setempat. Tempat ini merupakan jantung spiritual dan historis yang menyatukan memori kolektif masyarakat Banyuwangi Selatan mengenai leluhur mereka.

​Bagi mayoritas warga Kradenan, Punden Periangan dipercaya erat kaitannya dengan masa-masa akhir Kerajaan Majapahit atau awal berdirinya Kerajaan Blambangan.

Warga meyakini situs ini adalah tempat peristirahatan atau area pemujaan tokoh-tokoh besar, salah satunya sering dikaitkan dengan Prabu Tawangalun, raja legendaris Blambangan.

“Nama “Periangan” sendiri sering diartikan sebagai tempat yang memberikan ketenangan atau “kayangan” kecil di bumi bagi mereka yang melakukan laku spiritual.

​Warga tidak melihat punden ini sebagai objek wisata semata, melainkan tempat “wingit” (keramat) yang harus dihormati.

Setiap tahun, warga Desa Kradenan mengadakan ritual Bersih Desa di sekitar punden.Mereka membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada leluhur Danyang desa.

Ada kepercayaan kuat di masyarakat bahwa siapa pun yang datang dengan niat buruk atau merusak area situs akan tertimpa nasib malang. Hal inilah yang membuat situs ini tetap terjaga meski berada di tengah tengah pemukiman warga.

​Bagi warga Kradenan, keberadaan punden ini adalah bukti identitas bahwa mereka adalah keturunan asli masyarakat Blambangan yang tangguh. Di tengah arus modernisasi, punden ini menjadi pengingat agar warga tidak lupa pada akar budayanya (ora lali marang jalarane).

Para orang tua sering bercerita bahwa Punden Periangan dijaga oleh sosok gaib yang mereka sebut sebagai Eyang Periangan atau Kyai Periangan.

Konon, pada malam-malam tertentu (terutama Jumat Legi), beberapa sesepuh mengaku pernah melihat sosok pria berwibawa dengan pakaian adat Jawa lengkap (beskap dan blangkon) sedang duduk bersemedi di area tersebut.

Orang tua selalu berpesan kepada anak cucunya: “Yen liwat kene, kudu uluk salam” (Kalau lewat sini, harus memberi salam/permisi). Ini adalah cara mereka mengajarkan sopan santun terhadap alam dan sejarah.(her)

TAGGED:
Share This Article