Banyuwangi, sigap88news – Perhelatan pawai Ogoh-ogoh di Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, merupakan salah satu momen budaya dan spiritual yang paling dinamis di wilayah tersebut.Keterlibatan pemuda-pemudi dari tiga pura,di antaranya,Pura Purwa Dharma Perangan, Pura Mangku Jaya Kaliboyo,Pura Dhrma Bhakti Randuagung,menunjukkan soliditas generasi muda Hindu di Kradenan dalam menjaga kelestarian tradisi.

Desa Kradenan memiliki basis komunitas Hindu yang kuat. Kehadiran perwakilan dari tiga pura utama di desa ini menandakan adanya koordinasi yang baik antar pengempon pura.
Para pemuda-pemudi (Sekaa Teruna Teruni) biasanya telah mempersiapkan pembuatan Ogoh ogoh selama berminggu-minggu sebelumnya di masing-masing pura.

S3aat pawai dimulai, massa dari ketiga titik tersebut bertemu untuk mengarak patung raksasa secara bersama-sama, menciptakan iring-iringan yang megah.
Pawai ini tidak hanya menjadi milik umat Hindu, tetapi juga menjadi tontonan budaya bagi seluruh warga Desa Kradenan,Rute yang dilewati mencakup jalan-jalan utama desa agar seluruh masyarakat dapat menyaksikan visualisasi kreatif dari tokoh-tokoh mitologi tersebut.
Masyarakat umum tumpah ruah di pinggir jalan, memberikan dukungan moral dan menjaga ketertiban, yang memperkuat rasa kebersamaan di tingkat akar rumput.
Pawai ini selalu identik dengan hentakan musik Baleganjur yang dinamis. Musik ini berfungsi untuk membakar semangat para pengarak Ogoh-ogoh saat mengangkat dan memutar patung di persimpangan jalan.
Setiap Ogoh-ogoh yang diarak merupakan simbol dari Bhuta Kala atau unsur-unsur negatif yang harus dinetralkan sebelum umat memasuki keheningan Nyepi.
Mengingat acara ini melibatkan massa yang besar, koordinasi pengamanan biasanya dilakukan secara terpadu.
Pecalang,Babinsa dan babinkamtibmas mengatur barisan pawai dan memastikan ritual berjalan sesuai pakem agama,Linmas & Perangkat Desa,Membantu kelancaran arus lalu lintas di jalur desa agar aktivitas warga lainnya tidak terganggu total.
Setelah atraksi pawai Ogoh-ogoh berakhir, umat Hindu akan memasuki masa tenang untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian, yang meliputi
Amati Geni: Tidak menyalakan api atau lampu.
Amati Karya: Tidak bekerja.
Amati Lelunganan: Tidak bepergian.
Amati Lelanguan: Tidak mencari hiburan.
Kegiatan ini menegaskan posisi Desa Kradenan sebagai salah satu pusat pelestarian budaya di Banyuwangi Selatan. Selain sebagai persiapan spiritual menuju Catur Brata Penyepian, pawai ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga kerukunan dan warisan leluhur.(her)



