BANYUWANGI, sigap88news – Suasana malam di Kabupaten Banyuwangi, khususnya di Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, tampak berbeda dari biasanya. Sengatan suhu dingin yang ekstrem—atau yang akrab disebut fenomena bediding oleh masyarakat Jawa—membuat warga kompak mencari cara untuk menghangatkan diri. Salah satu tradisi lama yang kembali hidup adalah membuat api unggun bersama.

Pantauan di lapangan menunjukkan, hampir di setiap sudut dusun di Desa Wonosobo, kepulan asap dan kobaran api kecil tampak menghiasi malam. Tidak hanya di depan halaman rumah warga, pos-pos keamanan lingkungan (Pos Kamling) yang biasanya sepi kini menjadi pusat berkumpulnya warga.
Dinginnya malam yang menyelimuti Kota Blambangan tidak menyurutkan semangat warga untuk menjaga keamanan desa. Sebaliknya, cuaca ekstrem ini justru membuat Pos Kamling menjadi lebih hidup. Warga yang mendapat giliran ronda malam sengaja membuat api unggun menggunakan kayu bakar sisa atau sisa pelepah kelapa kering.

”Dinginnya luar biasa beberapa hari ini, Mas. Kalau cuma pakai jaket tebal saja masih tembus ke tulang. Makanya kami kompak bikin api unggun di depan pos,” ujar Supriyadi (45), salah seorang warga Desa Wonosobo yang sedang berjaga malam, Jumat (3/7/2026).
Menurut Supriyadi, keberadaan api unggun ini tidak hanya berfungsi sebagai penghangat tubuh, tetapi juga menjadi sarana perekat kebersamaan antarwarga. Sembari memantau keamanan kampung, warga saling mengobrol ditemani secangkir kopi hangat dan ketela bakar.
Penurunan suhu udara secara drastis pada malam hingga pagi hari ini merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi saat musim kemarau, terutama ketika wilayah Australia mengalami musim dingin. Angin kering dan dingin dari benua seberang berembus menuju Indonesia, melewati garis khatulistiwa, dan menurunkan suhu di sejumlah wilayah, termasuk Banyuwangi.
Fenomena suhu dingin di musim kemarau ini diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Warga diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengenakan pakaian hangat, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Meski harus berhadapan dengan menusuknya hawa dingin khas Blambangan, kekompakan warga Desa Wonosobo membuktikan bahwa kebersamaan dan kearifan lokal selalu punya cara untuk menghangatkan suasana.(her)



