Ad image

Tradisi Lebaran Ketupat, Satu Minggu Setelah IdulFitri Kembali Ramai Di Wonosobo Srono

Pemred Sigap88.news
45 Views
2 Min Read
Proses memasak ketupat dan lepet

Banyuwangi, sigap88news – Tradisi Lebaran Ketupat atau sering disebut Bakdo Kupat di wilayah Srono, khususnya Desa Wonosobo, memang memiliki daya tarik tersendiri yang sangat kental dengan nuansa kekeluargaan dan gotong royong.

​Satu minggu setelah Idul Fitri, suasana di desa Wonosobo kembali ramai, hampir menyerupai kemeriahan hari H lebaran. Berikut adalah beberapa hal menarik yang membuat tradisi ini begitu istimewa di daerah Wonosobo srono.

​Perayaan ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan simbol permohonan maaf dan kebersamaan​

Ketupat,Berasal dari kata “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan). Anyaman janur yang rumit melambangkan banyaknya kesalahan manusia, sedangkan isi nasi putih yang bersih melambangkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.​

Lepet,Berasal dari kata “Silep Kang Rapet” (tutup dengan rapat). Maknanya adalah setelah saling memaafkan, segala kesalahan yang lalu hendaknya ditutup rapat-rapat dan tidak diungkit kembali.

​Di wilayah Wonosobo Srono, perayaan ini sering kali melibatkan kegiatan yang sangat komunal,Warga biasanya membawa wadah berisi ketupat, lepet, dan sayur (seperti lodeh atau opor) ke mushola atau tempat pertemuan warga untuk didoakan bersama.

Ada tradisi ater-ater, di mana warga saling bertukar ketupat dan lepet antar tetangga. Ini memperkuat tali silaturahmi, terutama bagi mereka yang mungkin belum sempat bertemu di hari pertama Idul Fitri.

Di Wonosobo Srono, ketupat sering kali disandingkan dengan hidangan lokal yang kaya rempah, menambah keunikan rasa yang berbeda dari daerah lain.

​Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur dan kebersamaan masih terjaga dengan sangat baik di Banyuwangi, menjadi jembatan sosial yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat.(her)

TAGGED:
Share This Article